0 Comments

Mereka Hilang Tak Kembali
Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998

Penulis: Aristayanu Bagus, AS Rimbawana, Deby Hermawan, Putro Wasista
Tebal Isi: xxii + 211 halaman
Ukuran: 13×19 cm
ISBN: 978-623-5280-23-3
Cetakan pertama, September 2025

Blurb:
Sepanjang Orde Baru, banyak tragedi dibisukan bersama nama-nama korban yang tak pernah dicatat kekuasaan. Mereka adalah suara yang dipaksa hilang, ingatan yang sengaja dikubur. Buku ini secara runut mencatat banyak peristiwa yang menciptakan luka bagi negeri ini, sebagai upaya agar kita terhindar dari amnesia kolektif.

Mengapa Mengingat Penting?

Jejak darah telah dicetak dalam lembar-lembar sejarah. Jejak luka telah ditulis di sepanjang jalan “pembangunan”, kita menginjak luka dan trauma yang berserakan. Setiap lapisan-lapisan warta dan sejarah telah diamputasi dari kesadaran kolektif. Begitulah ruang kita hari ini, tidak pernah netral. Henri Lefebvre menjelaskan dalam bukunya The Production of Space, bahwa ruang berfungsi untuk bertindak dan mengontrol dominasi dan kekuasaan. Lebih jauh lagi, ia adalah produk sosial yang merekam jejak kekuasaan, konflik, dan segala perjuangan yang pernah berlangsung. Dan dalam ruang yang dibangun di atas pondasi kekerasan penguasa, para impunitas lenggang kangkung dan menganggap rakyatnya pandai melupa.

Bagi mereka, para impunitas, melupakan adalah sebuah kemewahan. Ia menjelma bantal empuk bagi mereka yang tidur di atas tumpukan nyawa yang telah ditebas dengan tangan yang berlumuran darah; selimut hangat bagi mereka yang kariernya ditanam di atas kuburan massal tanpa nisan. Lupa adalah mesin pembersih paling efektif, sebuah orasi politik untuk membersihkan sejarah menjadi putih dan berkilau serupa lantai istana. Melupakan adalah kemewahan semacam itu. Kemewahan yang hanya dimiliki para impunitas dan pewaris tahta kekuasaan.

Namun kami, rakyat yang mewarisi luka dan trauma, tidak memiliki kemewahan itu. Bagi kami, melupakan bukan lagi pilihan. Melupakan berarti mengizinkan para algojo menulis bab terakhir dari riwayat para korban, tentang epilog kekerasan dan ketidakadilan yang dipoles. Bagi kami, mengingat adalah satu-satunya alat pertahanan diri yang tersisa. Mengingat adalah satu-satunya keberanian yang terus kami rawat di tengah kepungan amnesia yang disponsori negara. Mengingat adalah penegasan bahwa kami telah lelah dengan kekerasan. Kami menolak menjadi bangsa bebal yang tersandung trauma berkali kali karena sengaja memicingkan mata dari jejak darah yang tidak pernah kering. Kami ditakdirkan mengingat sepanjang waktu. Mengingat adalah satu-satunya kemewahan yang tidak akan pernah diwariskan oleh negara.

Untuk transaksi bisa transfer ke nomor rekening BRI 425801003162531 atau BNI 1795091020 atau Q-ris BNI a.n TOKO BUKU LIBERTAS dan konfirmasi transfer whatsapp ke penjaga lapak toko buku libertas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts